Pena Pelajar Nu- Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU IPPNU Kokop berkolaborasi dengan OSIS SMA Negeri 1 Kokop menggelar kegiatan Bedah Film Laskar Pelangi pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Kegiatan tersebut dilaksanakan di SMA Negeri 1 Kokop dengan menghadirkan dua pemantik, yakni Rekan Ali Wahyudi dan Kak Hamidurrahman, serta Kak Diva sebagai host.
Kegiatan bedah film ini menjadi salah satu agenda yang dikemas dalam rangka memperingati momentum bulan kemerdekaan. Selain itu, kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi antara PAC IPNU IPPNU Kokop dengan pelajar SMA Negeri 1 Kokop melalui diskusi yang mengangkat isu pendidikan.
Ketua PAC IPPNU Kokop, Rekanita Nur Hasanah, mengatakan bahwa pemilihan film Laskar Pelangi bukan tanpa alasan. Menurutnya, meskipun kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka memperingati bulan kemerdekaan, tema pendidikan tetap menjadi perhatian utama.
“Tujuan utama dilaksanakan kegiatan ini selain untuk mempererat tali silaturahmi juga untuk memperingati bulan kemerdekaan. Namun, pilihan film jatuh pada Laskar Pelangi dikarenakan tetap ingin berada pada ranah pendidikan,” ungkapnya.
Film Laskar Pelangi sendiri menggambarkan perjuangan sekelompok anak dalam memperoleh pendidikan di tengah berbagai keterbatasan. Berangkat dari cerita tersebut, peserta kegiatan diajak untuk melihat kembali bagaimana pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk pola pikir serta meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
Pada sesi pemantik pertama, Ali Wahyudi, selaku Wakil Ketua (Bidang Keorganisasian) PAC IPNU Kokop, menyoroti salah satu dialog pada bagian awal film yang menggambarkan adanya anggapan bahwa pendidikan tidak memberikan perubahan berarti terhadap kehidupan seseorang.
“Pada awal film ada salah seorang tokoh yang berkata, ‘percuma sekolah akhirnya akan jadi kuli juga” jelas Ali.
Menurutnya, pernyataan tersebut menunjukkan adanya cara pandang yang keliru terhadap pendidikan. Keterbatasan pemahaman terhadap pentingnya pendidikan dapat memengaruhi cara seseorang dalam melihat masa depan dan mengambil keputusan.
“Ini membuktikan bahwa keterbatasan intelektual menimbulkan kesalahpahaman dan kekeliruan dalam berpikir, sehingga pendidikan sangat relevan untuk meningkatkan kualitas masyarakat,” lanjutnya.
Pembahasan kemudian dilanjutkan oleh Kak Hamidurrahman, selaku pengurus Persatuan Mahasiswa Kokop (PMK). Dalam pemaparannya, ia melihat bahwa terdapat dua kesadaran penting yang dapat dipetik dari film tersebut, yakni kesadaran individu dan kesadaran sosial.
Kesadaran individu, menurutnya, berkaitan dengan bagaimana seseorang memahami pentingnya pendidikan bagi perkembangan dirinya. Sementara itu, kesadaran sosial berkaitan dengan kepedulian bersama terhadap persoalan pendidikan yang terjadi di lingkungan masyarakat.
“Kesimpulan daripada film tersebut setidaknya ada dua, yaitu kesadaran individu dan kesadaran sosial. Sehingga apabila kesadaran individu dan kesadaran sosial ini muncul maka tidak ada lagi ketertinggalan pendidikan,” tuturnya.
Melalui kegiatan tersebut, peserta tidak hanya diajak menikmati alur cerita Laskar Pelangi, tetapi juga melihat persoalan pendidikan dari perspektif yang lebih luas. Film menjadi media untuk membuka diskusi mengenai pentingnya pola pikir, kesadaran individu, serta kepedulian sosial dalam mendorong kemajuan pendidikan.
Kolaborasi PAC IPNU IPPNU Kokop bersama OSIS SMA Negeri 1 Kokop juga menunjukkan bahwa kegiatan pelajar dapat dikemas melalui pendekatan yang edukatif dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Bedah film menjadi salah satu alternatif ruang belajar yang memungkinkan peserta berdiskusi, menyampaikan pandangan, sekaligus mengambil nilai dari sebuah karya film.
Kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial dalam momentum bulan kemerdekaan, tetapi juga dapat mendorong tumbuhnya kesadaran pelajar terhadap pentingnya pendidikan serta peran generasi muda dalam meningkatkan kualitas masyarakat.
Pewarta : Ali Wahyudi | Redaktur: Roizzatul Amina
