Tak Lagi Tabu, Seminar Fiqih Kewanitaan di Kokop Bahas Haid dari Perspektif Agama dan Kesehatan”

ipnuippnu

Pena Pelajar Nu- Lembaga Pendidikan (LP) Al Karimy Duko berkolaborasi dengan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Kokop menyelenggarakan Seminar dan Dialog Fiqih Kewanitaan tentang Haid ke-2 di halaman Madrasah Al Karimy Duko, Desa Mandung, Kecamatan Kokop, Kabupaten Bangkalan, Minggu (31/05/2026).

 

Kegiatan yang diikuti oleh masyarakat umum dan rekanita se-Kecamatan Kokop tersebut menghadirkan Neng Sofiyatul Ummah sebagai pemateri. Ia merupakan alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri sekaligus dosen Universitas An Nawawi Banten.

 

Seminar ini merupakan kali kedua diselenggarakan dengan tujuan memberikan pemahaman yang benar mengenai haid, menjaga kebersihan diri saat menstruasi, serta menjawab berbagai persoalan fiqih kewanitaan yang sering dihadapi oleh perempuan, khususnya remaja putri.

 

Ketua panitia pelaksana, Nur Aini, dalam sambutannya menyampaikan bahwa seminar tersebut menjadi wadah edukasi dan peningkatan wawasan bagi perempuan terkait kesehatan reproduksi serta pemahaman hukum haid dari perspektif kesehatan dan keagamaan.

 

Sementara itu, Kepala Yayasan Al Karimy Duko, Ustadz Syafi’uddin Athor, menegaskan pentingnya pemahaman mengenai haid bagi kaum perempuan. Ia berharap seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan dengan sungguh-sungguh, memperhatikan materi yang disampaikan, serta aktif bertanya apabila terdapat hal yang belum dipahami.

 

“Pemateri yang hadir memiliki kompetensi dan pengalaman yang mumpuni di bidangnya. Oleh karena itu, saya berharap seminar ini menjadi kesempatan berharga untuk menambah pengetahuan, meningkatkan kesadaran, dan membentuk pemahaman yang benar terkait kesehatan reproduksi perempuan,” ujarnya.

 

Ketua PAC IPPNU Kecamatan Kokop, Nurhasanah, juga menekankan bahwa seminar tersebut tidak hanya bertujuan menambah pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang edukasi untuk memahami kesehatan reproduksi perempuan secara benar, ilmiah, dan sesuai dengan nilai-nilai keagamaan.

 

“Masih banyak remaja putri yang menganggap pembahasan mengenai haid sebagai sesuatu yang tabu. Padahal, pemahaman yang baik mengenai haid sangat penting untuk menjaga kesehatan, meningkatkan kepercayaan diri, serta menghindari berbagai kesalahpahaman yang berkembang di masyarakat,” tuturnya.

 

Dalam pemaparannya, Neng Sofiyatul Ummah menjelaskan bahwa terdapat tiga jenis darah yang perlu dipahami oleh perempuan, yaitu darah haid, darah istihadhah, dan darah nifas. Ia menerangkan bahwa darah haid adalah darah yang keluar dari kemaluan perempuan yang telah mencapai usia haid, keluar secara alami, bukan karena sakit ataupun proses melahirkan.

 

Selain menjelaskan definisi haid, ia juga memaparkan syarat-syarat haid, di antaranya batas usia minimal haid, durasi minimal dan maksimal haid, serta masa suci di antara dua periode haid. Ia juga menguraikan sejumlah larangan bagi perempuan yang sedang haid menurut hukum fiqih, seperti melaksanakan salat, puasa, tawaf, menyentuh mushaf Al-Qur’an, berdiam diri di masjid, serta beberapa ketentuan lainnya.

 

Materi seminar juga membahas karakteristik darah haid berdasarkan warna dan sifatnya, serta penjelasan mengenai istihadhah beserta klasifikasi hukumnya yang cukup rinci. Menurutnya, pemahaman mengenai permasalahan tersebut sangat penting karena berkaitan langsung dengan pelaksanaan ibadah sehari-hari.

 

Lebih lanjut, Neng Sofiyatul Ummah menegaskan bahwa pengetahuan tentang haid tidak hanya wajib dipahami oleh perempuan, tetapi juga oleh laki-laki. Menurutnya, seorang laki-laki perlu memahami persoalan haid karena kelak akan menjadi suami dan ayah yang bertanggung jawab memberikan pemahaman kepada istri maupun anak perempuannya.

 

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan mengingat kajian fiqih kewanitaan, khususnya tentang haid, masih jarang disampaikan secara mendalam dan sistematis di tengah masyarakat.

 

Seminar berlangsung dengan antusiasme tinggi dari peserta. Hal tersebut terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan dalam sesi dialog dan diskusi yang berlangsung interaktif hingga akhir acara.

 

Pewarta: Nur Aini | Redaktur : Roizzatul Amina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *